Sabtu, 18 Juli 2015

Paparan Mendikbud Mengenai Penumbuhan Budi Pekerti, 10 Juli 2015

SILAHKAN UNDUH :

Inilah Rasio Ideal Guru PAUD dan Anak Didik

Inilah Rasio Ideal Guru PAUD dan Anak Didik
Dua orang Guru PAUD sedang bermain bersama anak didik mereka di PAUD LOC Maluku Utara. Pada jenjang Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, rasio guru dan anak maksimal 1:15. (foto: Yohan Rubiyantoro)
JAKARTA. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) telah mengatur beberapa hal penting, antara lain standar pengelolaan PAUD. Permendikbud yang disahkan akhir tahun 2014 tersebut mencantumkan rasio ideal antara jumlah guru dan anak didik.
Untuk lembaga PAUD dengan anak didik berusia hingga 2 tahun, yakni Taman Penitipan Anak (TPA), rasio guru dan anak yang harus dipenuhi adalah 1: 4. Artinya satu orang guru melayani maksimal empat orang anak didik. Sedangkan untuk PAUD dengan anak didik usia 2-4 tahun maka rasio guru dan anak maksimal 1: 8.
Sementara untuk PAUD dengan anak didik berusia 4-6 Tahun, yakni untuk jenjang Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK), maka rasio guru dan anak maksimal 1:15. Artinya, satu orang guru KB ataupun TK sebaiknya tidak melayani lebih dari 15 orang anak didik.  “Praturan tentang Standar PAUD ini disusun untuk menjamin kualitas dan mutu PAUD,” ucap Direktur Pembinaan PAUD Erman Syamsuddin baru-baru ini.
Sedangkan untuk standar waktu kegiatan atau pembelajaran di lembaga PAUD harus disesuaikan dengan usia dan frekuensi pertemuan. Untuk PAUD dengan anak didik berusia hingga 2 tahun, maka satu kali pertemuan minimal 120 menit. Pertemuan tersebut harus melibatkan orang tua, dan frekuensi pertemuan minimal satu kali per minggu
Sedangkan PAUD dengan anak didik berusia 2-4 tahun, satu kali pertemuan minimal 180 menit dan frekuensi pertemuan minimal dua kali per minggu. Sementara bagi PAUD dengan anak didik berusia 4-6 tahun, satu kali pertemuan minimal 180 menit dan frekuensi pertemuan minimal lima kali per minggu.
Permendikbud nomor 137 tahun 2014 juga menegaskan bahwa pelaksanaan program PAUD harus terintegrasi, mulai dari layanan pendidikan, pengasuhan, perlindungan, hingga kesehatan dan gizi.

Aturan Baru! Ortu Wajib Antar Anak Hari Pertama Sekolah, terus Lambaikan Tangan

Para siswa SD berangkat ke sekolah. Foto: dok.Jawa Pos
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan aturan teknis yang sangat detil terkait hari pertama masuk sekolah pasca Lebaran. Seperti orangtua wajib mengantar anaknya ke sekolah di hari perdana.
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata mengatakan regulasi baru itu tertuang dalam Permendikbud 21/2015. Aturan baru ini sudah dijelaskan kepada seluruh jajaran dinas pendidikan tingkat provinsi, kabupaten, dan kota akhir pekan lalu.

"Memang benar, orangtua wajib mengantarkan anaknya ke sekolah di hari pertama," kata pejabat yang akrab disapa Pranata itu kemarin.

Aktivitas ini tidak sebatas mengantar anak di luar pagar sekolah saja. Kemudian si siswa masuk sekolah dan orangtua pulang sambil keduanya melambaikan tangan. Lebih dari itu, Pranata mengatakan orangtua harus benar-benar ikut masuk sampai di dalam kelas.

Setelah sampai di dalam sekolah, orangtua harus berkomunikasi dengan para guru. Khususnya guru yang akan mengajar sang anak. "Dalam pertemuan ini ada semacam ijab qabul bahwa orangtua tua menitipkan anaknya kepada guru di sekolah," tutur pejabat asal Lembang, Bandung itu.

Melalui cara ini Kemendikbud ingin memperdalam keterikatan orangtua dengan sekolah. Sebab selama ini orangtua ke sekolah ketika pembagian rapor atau saat perpisahan. Padahal versi Kemendikbud, hubungan orangtua dengan guru yang erat bisa memecahkan persoalan siswa. "Baik dalam belajar atau pergaulan di sekolah, maupun di rumah," ujar Pranata.

Kemendikbud tidak hanya mengeluarkan aturan orangtua wajib mengantar anaknya ke sekolah di hari perdana. Tetapi Kemendikbud juga mewajibkan sekolah melaksanakan upacara bendera setiap Senin. Selama ini menurut Pranata, upacara hanya dilakukan di tanggal 17 saja atau sekali dalam sebulan.

"Padahal dengan upacara bendera, bisa mendidik kedisiplinan siswa," katanya. Siswa yang terdidik disiplin, akan terbiasa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan upacara bendera juga bisa mendidik siswa menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab. Yakni melalui penugasan panitia upacara secara bergilir.

Aturan baru berikutnya adalah kewajiban berdoa bersama-sama ketika mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran di kelas masing-masing. Pranata mengatakan untuk awal-awal proses berdoa bersama ini dipimpin oleh guru. Tetapi berikutnya para siswa ditugasi mempimpin doa secara bergantian. "Kebiasaan berdoa ini juga mulai ditinggalkan," tandas Pranata.

Setelah berdoa, Kemendikbud juga mewajibkan para siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum belajar. Perhitungan Pranata, menyanyikan lagu Indonesia Raya hanya membutuhkan waktu tiga menit. Meski dilakukan setiap hari, tidak akan berpengaruh pada proses pembelajaran.

"Ketika akan pulang sekolah, juga menyanyikan lagu-lagu perjuangan atau lagu-lagu daerah," kata dia. Jika siswa kesulitan mencari sumber lagu untuk menyanyi bersama-sama, boleh menirukan lagu melalui Youtube.

Lagu-lagu patriotik populer seperti Bendera (Coklat Band) atau Pancasila Rumah Kita (Franky Sahilatua) boleh dibawakan siswa rame-rame di kelas masig-masing. Jika bosan dengan lagu patriotik, siswa boleh membawakan lagu-lagu daerah setempat.

Pranata mengaku prihatin sudah banyak siswa di Jawa yang tidak tahu lagu-lagu tradisional Jawa. Begitu pula siswa-siswa di Bandung dan sekitarnya, yang mulai tidak mengenali lagu tradisional Sunda.

Menurut Pranata awal tahun ajaran baru 2015-2016 akan dimulai 27 Juli. Kemendikbud memberikan instruksi kepada seluruh dinas pendidikan, untuk mengawasi aturan-aturan baru itu. Jika ada sekolah yang bandel tidak menerapkan aturan tadi, disiapkan sanksi teguran. (wan/end)
SUMBER : http://www.jpnn.com/read/2015/07/14/315098/Aturan-Baru!-Ortu-Wajib-Antar-Anak-Hari-Pertama-Sekolah,-terus-Lambaikan-Tangan-

40 Ribu Siswa Indonesia Pilih Sekolah di Luar Negeri

ilustrasi jpnn
JAKARTA - Mendikbud Anies Baswedan dan Menlu Retno Marsudi menandatangani Peraturan Bersama Menteri Luar Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Penyelenggaraan Pendidikan Indonesia di Luar Negeri, Rabu (15/7).
Peraturan bersama tersebut merupakan perbaikan dari Keputusan Bersama Menteri Luar Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 191/81/01 dan Nomor 051/U/1981 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sekolah Indonesia di Luar Negeri yang ditandatangani pada 22 Januari 1981.
Tujuan peraturan bersama ini adalah untuk melindungi, meningkatkan, dan memajukan layanan pendidikan bagi sekitar tiga ribu anak Indonesia yang tersebar di 14 Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat.
Selain itu, kerjasama juga ditujukan bagi 30 ribu siswa yang tersebar di 300 komunitas pusat kegiatan belajar masyarakat atau yang dikenal dengan Community Learning Center (CLC).
Anies mengatakan, saat ini terdapat sekitar 40 ribu siswa di luar negeri baik siswa SILN maupun CLC yang belum terkelola. Di dalam konteks kerja sama ini terdapat perluasan layanan pendidikan di mana sebelumnya hanya terkonsentrasi terhadap pendidikan formal.
Tetapi mulai saat ini juga menjangkau pendidikan non formal. Ini penting karena tidak semua warga negara Indonesia terutama siswa bisa hidup mandiri di luar negeri dan dapat menjadi bagian masyarakat di sana. (esy/jpnn)
sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/07/16/315426/40-Ribu-Siswa-Indonesia-Pilih-Sekolah-di-Luar-Negeri-

Kamis, 24 Juli 2014

Buku Siswa dan BUku Guru Kurikulum 2013


Berikut ini Link Lampirannya, Silakan diklik saja.
# Buku SD/MI Kelas 1 Edisi Revisi 2014

# Buku SD/MI Kelas 2

# Buku SD/MI Kelas 4 Edisi Revisi 2014

# Buku SD/MI Kelas 5

# Buku SMP/MTs Kelas 7 Edisi Revisi 2014

# Buku SMP/MTs Kelas 8

# Buku SMA/MA/SMK Kelas 10 Edisi Revisi 2014

# Buku SMA/MA/SMK Kelas 11

Entri Populer